<div style='background-color: none transparent;'></div>
Home » » Santri

Santri

1. Kamper Atom. Teroong.... bila ku dengar buah itu, aku teringat pada kejadian menggelikan yang pernah ku alami. Hari itu sayur terong yang notabenenya asing bagi orang bogor sepertiku,
menjadi menu makan siang. Selesai makan, rasa eneg di lidah tak kunjung hilang. Oh, iyaa... aku ingat, sebungkus kacang atom tergeletak di dalam lemariku.

Ahh.. biar rasa eneg hilang ku coba untuk makan kacang. Segera ku menuju ke kamar dan aku mengambil kacang yang tercecer di lemari karena tidak ada plastiknya. Setelah kumasukkan kantong, aku keluar dan mengambil beberapa biji tanpa kulihat. Klethug...???. "Iiihh kacang apa ini....?". Ya Allah... Ternyata bukan kacang atom yang ku makan, tapi kamper yang juga berserakan di lemariku. Dasar butun. Hahahh...


2. Nasi Doang!


Jakarta... kota besar penuh impian, harapan dan juga keanehan. Yang terakhir, itulah yang dialami oleh ayahku. Ia adalah seorang pekerja desa yang bekerja di Jakarta. Suatu hari selesai bekerja ayahku mencoba mengganjal perut dengan mampir di sebuah warteg.

"Nasi doang bang....", pesan seorang pembeli. "Saya juga nasi doang...", kata ayahku ikut-ikutan karena tak tahu bahasa Betawi dan tak tahu menahu apa yang ada disitu. Setelah piring disodorkan, ayahku jengkel karena merasa dipermainkan. Langsung saja ia memarahi sang penjual. Semua pembeli tertawa dibuatnya. Akhirnya ayahku hanya cengar-cengir, karena malu setelah mendengar penjelasan sang penjual. Waah susah jadi orang desa. Xixi..


3. Amplifier Naas.

Suatu hari ketika masih menjadi ta'mir masjid, aku di suruh menghidupkan sebuah ampli, karena sebentar lagi adzan dikumandangkan. Sangking pede-nya aku pun langsung melesat menjunya. To the point ditekanlah tobol power yang masih terbuka, "Aaauuu...." secara reflek mulutku menjerit, karena aliran listrik 220 volt merangsangku. Sambil menenangkan diri, aku pun mundur dari tempat itu. Namun karena nasibku lagi malang, kabel terbuka beraliran listrik terinjak oleh kakiku. Dengan perasaan kaget aku menjerit lagi dan langsung menuju mimbar untuk menata sang mic beserta standarnya. Seusai menatanya dengan santai aku mencoba benda tersebut, namun aliran listrik kembali merangsang diriku. Spontan aja aku jatuhkan mic tersebut. Mendengar suara bantingan yang amat keras, pamanku langsung marah sambil ngomel-ngomel, "Goblok, kalau tidak bisa jangan mau..!!" Sambil terucap dalam hati, "Dasar lagi naas, sudah kesetrum berturut-turut, masih saja dimarahi @_@
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2011. Ulumuddin's Site . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger