<div style='background-color: none transparent;'></div>

My Rangking

Total Pageviews

About Me

My photo
Guru Bahasa Inggris yang ingin selalu belajar, belajar dan Mengajar

Ulumuddin's Site

Pengunjung Blog

Hasil UN 2009 MA Dan SMK Swasta Ulumuddin Islamic Boarding School Lhokseumawe

Friday, February 3, 2012

BANDA ACEH - Di seluruh Aceh, SMA Negeri Modal Bangsa, Aceh Besar, menduduki ranking pertama dalam perolehan hasil Ujian Nasional (UN) tahun ini dengan nilai rata-rata 55,56. Peringkat kedua dan ketiga masing-masing diraih SMA Fatih Bilingual School dengan nilai 55,48 dan SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh dengan nilai 54,30.

Sementara itu, suasana pengumuman hasil UN yang dilaksanakan serentak Senin (15/6) pukul 14.00 WIB kemarin disikapi para siswa dengan berbagai cara. Ada yang mencoret-coret baju seragam sekolah dengan spidol permanen bahkan dengan cat pylox, lalu konvoi naik sepeda motor keliling kota. Di samping itu, banyak juga siswa dan siswi yang melakukan sujud bahkan shalat syukur seperti yang dilakukan lulusan SMA Negeri 11 Banda Aceh.

Di SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh yang siswanya sudah mengetahui lulus 100 persen pada acara wisuda yang dilaksanakan Ahad (14/6), sehari sebelumnya, suasana pengumuman hasil UN kemarin agak adem-ayem. Ketua Panitia Ujian Nasional (UN) Provinsi Aceh, Drs Rusdi Aries MM yang dihubungi Serambi kemarin mengatakan selain ketiga sekolah unggul tersebut, untuk jurusan IPA masih ada tujuh sekolah lainnya yang nilainya sangat membanggakan. Yakni, SMAS Yapena Lhokseumawe (54,27), SMA Unggul Sigli (53,73), SMAN 4 Wira Bangsa (53,72), SMAN 1 Banda Aceh (53,71), SMAN 1 Lhokseumawe (52,79), SMAN 3 Banda Aceh (52,25), dan SMAS Patra Nusa (51,74).

Sedangkan untuk sepuluh besar MA IPA ranking pertama hingga sepuluh masing-masing ditempati MAS Ruhul Islam Anak Bangsa (52,49), MAS Ulumuddin (51,92), MAN Model Banda Aceh (51,62), MAS Darul Ulum (50,60), MAS Samudra (49,71), MAS Jeumala Amal Luengputu (49,71), MAN Lhokseumawe (49,27), MAS Ihya Ussunnah (49,14), MAN Bandar Dua (49,07), dan MAN Trienggadeng (49,04).

Untuk SMA IPS peringkat satu hingga sepuluh berturut-turut ditempati SMAS Yapena Arun (48,71), SMAS Iskandarmuda (48,56), SMAS Muslimat, SMAN 1 Muara Batu, SMAN 1 Rundeng, SMAN 1 Samalanga, SMA Persiapan Nisam Antara, SMAN 1 Banda Aceh, SMAN Unggul Subulussalam, dan SMAN 7 Banda Aceh.

Sedangkan untuk MA-IPS, MAN Model Banda Aceh (48,06), MAS Almansuriyah (47,46), MAN Beureughang (47,20), MA Jeunieb (47,05), MAS Kutamakmur (47,00), MAN Beureunuen (46,67), MAN Lhokseumawe (46,66), MAN Bireuen (46,59), MAS Ulumul Quran (46,55), dan MAN Samalanga (46,53).

Untuk kelompok Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) peringkat sepuluh besar ditempati SMK Ulumuddin (32,07), SPK Kesdam IM Lhokseumawe (31,52), SMKS Karya Beringin (31,01), SPK Muhammadiyah (30,25), SMKS Darunnajah (29,26), SMKS Ulang Kisat (28,94), SMKS Samatiga (28,88), SPK Kesdam IM Banda Aceh (28,43), SMK Miftahussalam Manggeng (28,32), dan SMK Raudhatussalihin (28,13).

Penanganan khusus
Menjawab Serambi tentang masih lebarnya kesenjangan tingkat kelulusan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Aceh, Rusdi Aries yang juga Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Aceh mengatakan pihaknya akan memberikan perhatian khusus kepada daerah-daerah yang rendah hasil UN-nya tersebut.

Berdasarkan hasil yang dicapai pada UN tahun ini, Aceh Jaya menempati peringkat pertama tingkat ketidaklulusan siswa SMA/MA, yakni 51 persen lebih. “Untuk daerah ini, kita akan carikan penyebabnya, sehingga pada tahun 2010 mendatang angka ketidaklulusan siswa di kabupaten ini bisa diperkecil,” katanya. Kecuali Aceh Jaya, kabupaten lain yang perlu perhatian khusus adalah Simeulue, Aceh Timur, Aceh Besar, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.

Hanya 8 lulus
Sementara itu dari Bireuen dilaporkan, hanya delapan dari 40 siswa SMA Sukma Cot Keutapang Jeumpa yang lulus UN tahun ini. Dengan demikian, persentase kelulusan di SMA yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006 ini merupakan yang terendah di Bireuen, yakni hanya 19 persen. “Angka kelulusan secara keseluruhan di Bireuen mencapai mencapai 98,81 persen. Meningkat 5,5 persen dibandingkan tahun lalu. Dan SMA Sukma adalah yang paling kecil jumlah kelulusan siswanya,” kata Kadis Pendidikan Bireuen, Yusri SSos, kepada Serambi, Senin (15/6).

Kadis merincikan, sebanyak sembilan SMA/MA yang lulus 100 persen di Bireuen adalah SMA 1 Samalanga 228 siswa, SMA Bireuen (491), SMA 2 Peusangan (457), SMA 2 Kutablang (71), disusul SMAS Muslimat Samalanga (93), MAN Samalanga (96), MAN Jeunieb (52), MAN Bireuen (118), dan MAN Bugak (92).

Selain SMA Sukma Bireuen, yang paling sedikit peserta UN-nya yang lulus adalah SMA Pandrah (161 ikut UN, lulus 140 orang atau 87,12 persen) kemudian MAS Peudada (peserta UN 40, yang lulus 34 orang). Kadis Pendidikan Bireuen mengatakan peningkatan jumlah lulusan tahun ini di kabupaten itu tidak terlepas dari peran semua pihak, mulai dari pendidik, siswa, maupun orang tua murid yang rajin memotivasi dan tekun memantau anaknya belajar.

Kepala SMA Sukma Bireuen, Tuti Alawiyah SPd, saat dikonfirmasi Serambi di sekolah itu kemarin mengaku mereka telah berusaha semampunya meningkatkan kualitas pengajaran. Termasuk mengawasi jalannya UN waktu itu secara ketat dan fair. Tahun ini merupakan tahun pertama bagi SMA baru itu ikut UN. “Kami di sekolah telah berusaha semampu mungkin. Termasuk mengawasi UN secara ketat agar siswa tidak mencontek pada temannya. Kalau lulus, ya lulus murni, bukan hasil rekayasa,” katanya.

Tentang sangat minimnya siswa yang lulus, menurutnya, itu adalah refleksi dari kejujuran dalam proses UN lalu. Selain itu, mereka yang ikut UN pada April lalu adalah angkatan pertama yang saat masuk tidak dites, karena merupakan anak yatim piatu korban tsunami dan konflik. Mereka datang dari berbagai kalangan dengan kemampuan yang berbeda-beda. “Setelah ditempa di sekolah, hasil akhirnya ya demikianlah adanya,” kata Tuti.

Dari jumlah siswa yang lulus delapan orang itu, urai Tuti, satu orang lulus di UGM, dua lagi memperoleh beasiswa Provinsi Aceh yang diseleksi beberapa waktu lalu, dan seorang lulus USMU di Unsyiah Banda Aceh. Dari empat yang masuk perguruan tinggi, hanya satu yang tidak lulus UN, yaitu yang memperoleh undangan ke Unsyiah. Serambi mencatat, SMA Sukma diresmikan Presiden SBY pada Juni 2006, dibangun atas prakarsa Media Group yang dipimpin Surya Paloh. Konsep awalnya, SMA tersebut menampung anak yatim korban tsunami dan korban konflik.

Sabang meningkat
Sementara itu, tingkat kelulusan siswa SMA dan sederajat di Sabang meningkat dari tahun sebelumnya. Para siswa di kota ini juga berkonvoi di jalanan untuk merayakan kelululusannya sore kemarin. Kepala Dinas Pendidikan Sabang, Drs Kamaruddin, melalui Sekretarisnya Weni Safitri mengemukakan tingkat kelulusan siswa SMAN 1 dari total 185 siswa, masing–masing jurusan IPA 98,31%, IPS (91,04%), sedangkan yang tak lulus lima siswa IPS dan satu siswa IPA. Di SMAN 2, dari 168 siswa, tingkat kelulusan jurusan IPA (100%), sedangkan IPS (97,98%). Di sekolah ini tercatat hanya dua siswa IPS yang tidak lulus. Sementara itu di MAN Sabang, persentase siswa yang lulus untuk jurusan IPA 83,83%, IPS 46,03%. Menurut Weni, jumlah siswa yang tidak lulus di SMAN 1 dan 2 turun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sedangkan pengumuman hasil UN di SMK Sabang, menurut Weni, ditunda karena ada nilai produktif (NP) siswa jurusan NPL yang tidak terisi. Padahal, siswa NPL tersebut sudah ikut ujian untuk mendapatkan nilai produktif tersebut. “Hanya siswa jurusan NPL yang tidak terisi nilai produktifnya, sedangkan jurusan lain seperti akuntansi dan kesekretariatan ada nilainya. Ini akan kita konfirmasi ulang,” tukas Weni.(sir/yus/fs)
Continue Reading | comments

Hasil UN 2010 MTs Swasta Ulumuddin tingkat SMP/MTs

Dari 81.465 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat di Provinsi Aceh yang mengikuti Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2009/2010 akhir Maret lalu, hanya sebanyak 71.265 peserta atau sekitar 87,48 persen yang dinyatakan lulus.

Sementara sebanyak 10.200 siswa atau 12,52 persen lagi tidak lulus, dan masih diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian ulangan pada 17-20 Mei mendatang.

Hasil UN 2010 tingkat SMP/MTs, Jumat (7/5) diumumkan secara serentak di sekolah masing-masing. Seperti biasa, perayaan kelulusan UN masih tetap diwarnai dengan aksi coret baju siswa, konvoi keliling kota dengan kendaraan roda dua. Sementara, bagi yang tidak lulus kesedihan terlihat jelas di wajah mereka.

Ketua panitia penyelenggara UN 2010 Provinsi Aceh, Drs Asy’ari M.Pd mengatakan, berdasarkan hasil UN 2010 tingkat SMP/MTs yang diterima pihaknya dari Kementerian Pendidikan Nasional, Aceh menempati peringkat 17 besar kelulusan secara nasional.

Tertinggi Aceh Tengah

Di Aceh, persentase kelulusan tertinggi adalah Kabupaten Aceh Tengah. Dimana dari 3.085 siswa SMP/MTs negeri maupun swasta yang ikut UN, hanya 39 orang (1,26 persen) yang tidak lulus atau harus mengikuti ujian ulangan.

Selanjutnya, Gayo Lues dari 1.510 siswa yang hanya 21 orang (1,39 persen) tidak lulus, Aceh Tenggara 110 siswa tidak lulus (2,76 persen) dari 3.981 peserta, Aceh Singkil dari 1.947 peserta, sebanyak 71 siswa tidak lulus (3,65 persen), Kota Subulussalam dari 1.248 peserta, 49 siswa tidak lulus (3,93 persen), Bener Meriah 91 siswa tidak lulus (4,37 persen) dari 2.084 peserta.

Sementara persentase kelulusan terendah adalah pelajar SMP/MTs di Kota Sabang yakni sebanyak 185 orang (38,87 persen) tidak lulus dari 476 yang ikut UN. Kemudian Aceh Tamiang 1.275 siswa (28,02 persen) tidak lulus dari 4.550 peserta, Aceh Besar 1.277 siswa (25,34 persen) tidak lulus dari 5.040 peserta, Kota Langsa 700 siswa tidak lulus (21,92 persen) dari 3.193 peserta dan Pidie Jaya 424 siswa tidak lulus (20,20 persen) dari 2.099 peserta

"Tapi, untuk nilai tertinggi UN SMP tahun ini diraih Kota Lhokseumawe mencapai 33,40 persen dan terendah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang hanya 25,83 persen," ujar Asy’ari yang juga Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Pra Sekolah, Dasar dan Lanjutan Dinas Pendidikan Aceh.

Sementara itu, untuk ranking 10 besar kelulusan SMP sederajat tahun ini di Aceh, yakni MTs Swasta Darul Ulum Banda Aceh dengan nilai rata-rata 36,45, menyusul SMP Islam YPUI Banda Aceh (35,92), SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh (35,65), SMP Swasta YPPU Sigli (35,56), SMP Negeri 2 Kuala (35,47), SMP Negeri 1 Lhokseumawe (35,44), SMP Budi Dharma Banda Aceh (35,32), MTsN Model Banda Aceh (35,27), MTs Swasta Ulumuddin (35,19) dan SMP Negeri 4 Kuala (35,10).

Dari 81.465 pelajar yang ikut UN, yang mendapat nilai 10 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya 5 orang, tapi untuk mata pelajaran Bahasa Inggris sebanyak 109 orang. Mata pelajaran matematika lebih banyak lagi yaitu 716 orang dan IPA sebanyak 118 orang. Kondisi ini terindikasi dalam masa belajar di sekolahnya, banyak pelajar SMP/MTS di Aceh kelihatannya kurang serius mengikuti mata pelajaran Bahasa Indonesia. (mhd)
Continue Reading | comments

Peringkat Hasil UN MA Dan SMK Swasta ULUMUDDIN Islamic Boarding School 2010 Lhokseumawe

Sebanyak 82,96 persen dari 67.485 peserta Ujian Nasional (UN) Tahun 2010 tingkat SMA, MA, dan SMK se Aceh dinyatakan lulus UN utama yang akan diumumkan Senin (26/4) hari ini. Sedangkan 11.499 siswa atau sebanyak 17,04 persen lainnya harus mengikuti UN ulangan yang dijadwalkan 10-14 Mei 2010 mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Bakhtiar Ishak kepada Serambi Ahad (25/4) kemarin mengatakan persentase tingkat kelulusan tahun ini memang menurun dibanding tahun lalu, namun pihaknya berharap hasil UN ini betul-betul bersih dari kecurangan dan banyak siswa yang akan lolos ke perguruan tinggi favorit.

Didampingi Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Zulkifli Saidi dan Ketua Panitia UN Provinsi Aceh, As’ari, Kadis Pendidikan Bakhtiar Ishak mengharapkan kepada siswa yang telah berhasil untuk tidak euforia dengan mencorat-coret baju dan parade kendaraan. “Sebab, setelah lulus UN SMA sederajat, tantangan yang lebih besar sudah menanti di depan mata, yaitu test masuk ke perguruan tinggi,” katanya.

Sementara itu Ketua Panitia UN, Dra As’Ari MPd mengatakan dari 23 kabupaten/kota, Kota Lhokseumawe menempati rangking pertama tingkat kelulusan siswanya dengan 96,45 persen. Peringkat kedua dan ketiga masing-masing ditempati Aceh Singkil 95,02 persen dan Aceh Tenggara 93,46 persen.

Sedangkan kabupaten/kota lainnya masing-masing Banda Aceh 83,52 persen, Sabang 89,46 persen, Langsa 72,12 persen, Subulussalam 89,54 persen, Aceh Besar 78,96 persen, Pidie 90,83 persen, Pidie Jaya 88,48 persen, Bireuen 82,18 persen, Aceh Tengah 92,47 persen, Bener Meriah 93,60 persen, Aceh Utara 92,66 persen, Aceh Tamiang 80,71 persen.
Selanjutnya Aceh Jaya 72,72 persen, Aceh Barat 81,12 persen, Nagan Raya 85,11 persen, Simeulue 85,16 persen, Aceh Selatan 74,23 persen, dan Aceh Tenggara 73,46 persen. Sedangkan tingkat kelulusan terendah ditempati Abdya dengan hanya 49,55 persen siswanya lulus, disusul Gayo Lues (64,99 persen), dan Aceh Timur 70,53 persen.
Jika dikolompokkan per jurusan, SMA/MA jurusan IPA menempati peringkat pertama dengan tingkat kelulusan 92,32 persen dari 34.397 peserta UN, sedang jurusan IPS 77,01 persen dari 23.026 peserta, SMK 65,36 persen dari 9.686 peserta, disusul MA jurusan agama 58 persen dari 136 peserta, dan SMA/MA jurusan Bahasa 36,67 persen dari 240 peserta.

Rangking pertama

SMA Modal Bangsa dan MAN Model Banda Aceh masing-masing menempati rangking pertama 10 besar kelompok IPA SMA/MA. Untuk jurusan IPS masing-masing ditempati SMAN 2 Bukit dan MAN Takengon, sedangkan untuk kelompok SMK ditempati SPK Muhammadiyah. Sepuluh besar SMA IPA masing-masing SMA Modal Bangsa, SMAN 10 fajar Harapan, SMA Fatih Billingual School, SMA Unggul Sigli, SMA Unggul Aceh Selatan, SMA Lab School, SMAN 3 Banda Aceh, SMAN 4 Banda Aceh, SMA Yapena, dan SMAN 1 Lhokseumawe.

Sepuluh besar MA IPA masing-masing MAN Model Banda Aceh, MAS Jeumala Amal Luengputu, MAN Unggul Tapaktuan, MAS Tgk Chik Umar Diyan, MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, MAS Nurul Islam, MAS Nurul Ulum, MAN Ulim, MAN Lawe Sigala-gala, dan MAN Rukoh. Untuk kelompok MA bahasa meliputi MAN Jangka, MAN Model Banda Aceh, MAS Umar Diyan, MAS Almanar, MAN 2 Banda Aceh, MAN Kutabaro, MAN Darussalam, MAS Fauzul Kabir, MAN Subulussalam, dan MAN Sibreh.

Sedangkan untuk jurusan Agama masing-masing ditempati MAS Ulumul Quran, MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, MAN Darussalam, MAN Meulaboh 1, dan MAN Suak Timah. Sedangkan kelompkak SMK tercatat masing-masing SPK Muhammadiyah, SMKN 2 Lhokseumawe, SMK Ulumuddin, SMKN 4 Lhokseumawe, SMKN 1 Lhokseumawe, SPK Kesdam IM Lhokseumawe, SMKN 1 Bireuen, SMKN 1 Meulaboh, SMKN 3 Lhokseumawe, dan SMK Karya Beringin.

Tidak lulus
Sementara itu, sebanyak 743 siswa dari 5.220 siswa peserta UN SMA/MA dan SMK di Kabupaten Bireuen tidak lulus dalam UN yang diselenggaran 22 Maret lalu dan akan diumumkan sore ini di sekolah masing-masing. Mereka yang tidak lulus harus mengikuti ujian ulangan mulai 10 sampai 14 Mei bulan depan.

Kadis Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Bireuen, Asnawi, yang sedang di Banda Aceh menginformasikan, angka kelulusan UN tahun ini hanya 85,77 persen (menurut data provinsi 82,18 persen-red), lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 98 persen. “Jumlah peserta UN di Bireuen 5.220 siswa dari 27 SMA/MA Negeri, delapan SMA/MA swasta, empat SMK Negeri dan dua SMK swasta,” katanya kepada Serambi, Minggu (25/4).

Dirincikan Asnawi jurusan IPA peserta UN mencapai 2.944 siswa yang tidak lulus tercatat 215 orang, kemudian peserta UN jurusan IPS sebanyak 2.246 orang yang harus mengikuti ujian ulangan berjumlah 528 orang, peserta UN dari SMK sebanyak 877 orang yang tidak lulus mencapai 338 orang. “Hanya jurusan bahasa yang lulus 100 persen jumlah pesertanya hanya 30 orang,” kata Asnawi.
Dalam kesempatan itu, Asnawi mengatakan, tidak ada sekolah yang lulus 100 untuk dua jurusan, kecuali jurusan IPA di SMA 2 Peusangan peserta dari juruan IPA 159 orang lulus 100 persen. “Angka kelulusan paling rendah adalah SMA Pandrah dan SMA Peusangan Selatan, data lengkapnnya besok lebih jelas,” pungkas Asnawi. | serambinews
Continue Reading | comments

Tayangan Film Horor Bagi Anak

Thursday, February 2, 2012

Film horor saat ini sudah kian popular dan mempunyai banyak penonton yang tidak sedikit. Ironisnya dari banyak penonton yang ada, termasuk didalamnya adalah kalangan anak-anak. Meski Film horor diperuntukkan bagi kalanagan dewasa, tapi dalam perjalannya anak-anak juga menjadi penggemar yang setia.
Ketika menonton Film horor pasti perasaan takut dan hesteris akan muncul. Film ini seakan dibuat untuk menakut-nakuti dan menegangkan mental penonton. Teriankan hesteris seakan menjadi penanda Film horor telah sukses dan pada saat itulah penonton merasa puas. Itulah mungkin bagi penonton orang dewasa ihwal keasyikan dan keindahan menonton Film horor. Tapi bagi anak-anak Film ini akan membawa corak yang berbeda.

Tayangan Film horor bagi anak-anak jelas-jelas mempunyai pengaruh yang tidak melulu positif. Adegan tayangan yang penuh dengan aroma pembunuhan, hantu-hantu yang mesterius, mistis, dan tekanan-tekanan mental lainnnya akan ikut mempengaruhi dan membentuk karakteriskstik serta kepribadian anak-anak.

Masa anak-anak adalah masa dimana kondisi kejiwaannya masih cendrung imitative. Setiap sesuatu yang baru, tanpa banyak pertimbangan apakah itu baik atau buruk, akan selalau ingin ditiru. Apa yang dilihat yang dirasakan dari lingkungan sekitar akan turut membentuk pola perkembangan anak. Meski anak-anak dilahirkan dalam keadaan fitroh tapi lingkunganya kurang baik, maka potensi kefitrahanya akan tercoreng.

Film horor yang mempunyai banyak muatan mesterius akan banyak mempengaruhi kepribadian anak. Anak-anak yang selalu dihadapkan dengan suatu hal yang mesterius akan membentuk karakter kepribadian yang penakut, minder dan tidak percaya diri. Dalam Film horor pasti ada sesuatu yang mesterius, baik itu dengan hantu dan aroma pembunuhan. Adegan itu akan membuat seseorang, apalagi anak-anak, merasa ketakutan.

Kesehariannya pasca menonton Film horor anak-anak biasanya akan selalau dilanda dengan kecemasan dan ketakutan. Ini buah dari tayangan Film horor. Mungkin orang dewasa tidak akan mengalami hal ini meingiat mereka sudah bias membedaan ana yang obyektif yang sesungguhnya dan mana yang fiktif. Tapi anak-anak yang biasanya hanya bisa cepat meniru apa-apa yang dilihat, dirasakan dan dimasukan dalam keprinadiannya.

Dalam Film horor juga penuh dengan adegan-adegan mistis. Adegan mistis sebeanrnya akan mengajari anak-anak untuk tidak berfikir rasional dan hanya percaya pada klenik. Anak-anak tidak bisa membedakan mana kehidupan yang nyata dan mana kehidupan yang fiktif. Ketika Film horor itu telah membentuk pengetahuan dan terinternalisasi dalam diri anak, maka anak-anak akan terbentuk pola hidup dan karakter yang mistis.

Selalu kita jumpai alur Film horor tidak akan pernah lepas dari balas dendam dari seorang hantu yang sebelumnya telah dibunuh atau bahkan kadang diperkosa. Sang hantu biasanya akan menakut-nakuti dan meneror seseorang yang dianggap musuhnya. Adegan ini menyimpan dua makna, balas dendam dan adegan kekerasan yang sama-sama membawa efek negative bagi anak-anak.

Adegan balas dendan dalam Film itu akan mempengaruhi mental anak-anak dalam setiap menghadapi persoalan dan masalah. Balas dendam adalah sifat yang menyimpan kebencian dengan motif tertentu. Kebencian itu tidak akan pernah lepas dan hilang kecuali sudah membalas terhadap lawanya. Adegan-adegan inilah yang juga akan menjadi sumber dari segala kekerasan. Maka fenomena kekerasan yang banyak terjadi pada anak-anak saya kira juga tidak akan pernah lepas dari tayangan-tayangan televisi yang berbau kekerasan, termasuk juga dalam Film horor.

Untuk mengatasi semua permasalahan efek negative dari Film horor tidak akan pernas lepas dari peran serta orangtua sebagai pendidik, pendamping dan pengasuh yang paling utama. Orangtua dalam hal ini mempunyai peranan yang paling sentral dalam mengadakan tindakan preventif tentang bahaya laten dari televisi.

Orangtua yang bijaksana akan selalu memilih dan memilah mana tayanagan yang layak untuk anak-anak dan mana yang kurang layak. Film horor yang membawa banyak efek negate selayaknya orangtua dapat memberi pemahaman terhadap anak untuk melihat Film yang lebih pantas dengan ajakan dan rtme bahasa yang tidak birokratis.

Di samping itu juga sangat dituntut bagi orangtua untuk selalau mendampingi anak-anak ketika sedang menonton. Kadang tidak sedikit dari anak-anak yang selalu bertanya ihwal persoalan adegan dalam tayangan, maka kalau orangtua tidak ada anak akan menyerap apa adanya.

Tapi kalau orangtua mendampingi, maka bisa menerangkan terhadap anak-anak secara lebih realistis dan obyektif apa-apa yang telah ditanyakan anak. Berilah pemahaman secara lebih realistis terhadap anak apabila mereka bertanya tentang sersuatu hal yang mesterius atau bahkan mistis.

Orangtua juga dituntu untuk memberikan waktu-waktu terentu bagi anak dalam menilaht tontonan televisi. Tentunya ini membutuhkan pengetahuan orangtua tentang jadwal-jadwal tayangan yang bagus bagi anak-anak. Begitu pentingnya orangtua memberi jadwal nonton televise sehingga anak-anak tidak gampang menonton tayangan yang kurang edukatif.

Bagi anak-anak yang sudah terlanjur menonton tayangan Film horor membutuhkan penerangan lebih lanjut dari orangtua. Kalau ada anak-anak yang sudah hobi dan bahkan kecanduan menonton Film horror, maka orangtua selayaknya mampu memberian keterangan pada anak-anak dengan bahasa ke ibuan. Orangtua mengajak anak dengan menjaga ritme emosi dan rasa benci anak-anak terhadap orangtua.

Anak-anak yang biasa nonton Film horor pasti akan bertanya dalam kehidupannya ihwal sesuatu yang mistis dan mesterius seperti yang ada dalam tayangannya. Orangtua selayaknya memberi keterangan ihwal semua itu dengan rasional dan realistis. Orangtua harus memberi kejelasan ihwal Film itu hanyalah fiktif dan berilah keterangan-keterang secara lebih rasional.
Continue Reading | comments

Pendidikan merupakan hak semua orang

Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang di dalam penyusunannya tidak dapat lepas dari faktor pembiayaan. Hal ini karena di dalam pelaksanaannya, ada banyak hal yang harus dilakukan, disiapkan, dan selanjutnya diadakan agar proses berlangsung lancar. Berbagai hal harus disiapkan dan disediakan oleh semua pihak, khususnya dalam hal ini adalah sarana-prasarana pendidikan dan pembelajaran sehingga dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Dengan dana ini, segala kebutuhan sarana-prasarana serta operasional pendidikan dapat disediakan oleh sekolah.
Akan tetapi, perkembangan zaman yang sedemikian pesat menuntut kita untuk ikut memikirkan asal dana pengembangan dan peningkatan sarana prasarana serta biaya operasional pendidikan tersebut. Kita harus ikut memberikan sumbangsih kepada dunia pendidikan sehingga proses dapat terlaksana. Kita menyadari bahwa sarana, prasarana pendidikan, dan biaya operasional merupakan aspek penting dalam kegiatan. Tanpa ketiga aspek tersebut, tujuan tidak dapat tercapai.

Permasalahannya adalah dengan proses pengembangan ini, ternyata membawa dampak yang sangat berat bagi masyarakat. Jika kita harus mewujudkan atau memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat harus memberikan bantuan dan sokongan dana yang tidak sedikit agar tujuan pendidikan tercapai. Padahal, secara umum, masyarakat kita termasuk dalam kelompok ekonomi rendah. Kebanyakan orangtua berlatar belakang keluarga ekonomi rendah sehingga hal tersebut berdampak pada kesulitan memenuhi kebutuhan sarana-prasarana. Kesulitan ini karena sangat banyak orangtua yang tidak mampu membayar dana pendidikan untuk anak-anaknya. Mereka kesulitan harus membayar dana pendidikan sebab penghasilan mereka sangat jauh dari cukup untuk menutup kebutuhan tersebut.

Kondisi ini mengisyaratkan bahwa orang-orang dari kelompok ekonomi rendah atau orang-orang miskin tidak diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah. Mereka tidak berdaya untuk mengikuti proses pendidikan sebab kondisi ekonomi yang tidak mencukupi. Jangankan untuk menuntup kebutuhan dana sekolah, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, mereka harus bersusah-payah. Apalagi, bagi mereka yang mempunyai jumlah anak yang banyak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja mereka tidak mampu, apalagi untuk biaya pendidikan. Tidak heran jika kemudian kita mendapati banyak anak-anak yang drop out, gagal sekolah, atau memang tidak sekolah karena biaya yang tidak mencukupi bagi mereka.

Ada cukup banyak anak-anak dari keluarga miskin yang terpaksa harus mrotol atau tidak bersekolah karena kekurangan biaya. Keluarga mereka tidak berkemampuan untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah karena untuk memenuhi biaya hidup saja mereka kesulitan. Oleh karena itulah, mereka sangat berharap pemerintah benar-benar mewujudkan amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mereka mempunyai keyakinan bahwa pemerintah seharusnya memberikan pembiayaan bagi proses pendidikan yang ditempuh oleh anak bangsa. Bagaimana pun, pemerintah harus dapat merealisasikan amanat rakyat yang tertuang dalam UUD 1945 tersebut sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap warga negaranya. Inilah konsekuensi pemerintah terhadap bangsa dan negaranya.

Sepertinya, dengan kondisi yang tercipta dalam kehidupan, seakan memberikan jawaban kepada masyarakat, khususnya orang-orang miskin, bahwa untuk dapat mengikuti proses pendidikan, mereka harus kaya terlebih dahulu. Mereka harus mempunyai kekayaan dalam jumlah tertentu sehingga mampu membeli kue yang bernama “pendidikan”, khususnya pendidikan formal. Jika mereka sudah mempunyai dana untuk membeli “kue pendidikan” ini, barulah mereka boleh ikut duduk melingkar dalam “kenduri pendidikan” di sekolah-sekolah. Sungguh ironis jika ternyata warga negara tidak dapat ikut bergabung dalam kenduri pendidikan di negerinya sendiri.

Tentunya, kondisi seperti ini tidak sehat bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia negeri ini. Padahal, hal paling utama untuk dapat menjaga eksistensi bangsa dan negara di antara bangsa dan negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Jika sebuah negara mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas, hal tersebut secara otomatis memosisikan statusnya di dalam lingkungan masyarakat yang berkualitas. Jika sumber daya manusia tidak berkualitas, tentunya kita terpuruk dalam tata pergaulan antar-bangsa di dunia. Selamanya pula, kita menjadi negara yang tidak diperhitungkan dan hanya menjadi objek, bahkan menjadi belas kasihan dari negara lain.

Orang miskin pun ingin sekolah. Mereka mempunyai keinginan dan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas dirinya sehingga mempunyai kemampuan maksimal dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Mereka sudah bosan dengan kondisi kehidupan yang mereka jalani selama ini. Mereka ingin suatu perubahan kondisi agar dapat menikmati hidup dengan lebih baik. Mereka meyakini bahwa pendidikan merupakan jembatan atau kendaraan yang dapat mengantar ke tujuan tersebut. Mereka menyadari bahwa selama ini, penderitaan yang ditanggung adalah akibat dari tingkat pendidikan yang tidak sepadan dengan tuntutan kehidupan. Mereka mengamini bahwa pendidikan adalah kebutuhan pokok agar hidup menjadi lebih baik.

Oleh karena itulah, sudah seharusnya kita ikut memikirkan langkah-langkah konkret untuk mereka. Sudah seharusnya kita memberikan kesempatan kepada mereka agar potensi yang ada dalam diri dapat berkembang secara proporsional. Kepedulian kita terhadap proses pendidikan mereka diharapkan merupakan kesempatan mengangkat kondisi kehidupan mereka. Jika mereka berkesempatan untuk mengikuti proses pendidikan dengan sebaik-baiknya, kualitas mereka tumbuh dengan sempurna dan mampu sejajar dengan yang lain. Dengan demikian, jurang pemisah yang selama ini menganga lebar dapat kita hilangkan dan menjadi hamparan kebersamaan yang indah.

Selanjutnya, yang perlu kita tekankan dalam hal ini adalah bahwa orang miskin pun harus sekolah. Mereka harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti proses pendidikan di negeri ini. Kalaupun mereka terhambat oleh kondisi perekonomian yang tidak mendukung, kesetiakawanan sosial atau pemerintah harus konsekuen dengan tugas dan kewajibannya terhadap warga negaranya, khususnya dalam aspek pendidikan. Warga negara ini bukan hanya orang-orang yang kaya dari sisi materi, finansial, melainkan juga orang-orang miskin. Pemerintah juga harus memikirkan dan memberikan kesempatan yang sama pada mereka (orang-orang miskin). Jika kita selalu menggaungkan konsep hidup yang berkeadilan, kita juga harus adil dengan kondisi hidup mereka. Sikap berkeadilan yang kita maksudkan adalah berkeadilan dalam segala hal, termasuk dalam hal ini adalah pendidikan bagi semua elemen masyarakat.

Ya. Orang miskin harus sekolah. Tidak ada jalan lain yang dapat meningkatkan kualitas bangsa secara menyeluruh. Justru, orang-orang ini yang seharusnya mendapatkan kesempatan dan perhatian ekstra, terutama dari pemerintah. Pemerintah mempunyai tugas dan kewajiban yang merupakan amanat bangsa ini. Pendidikan bukan hanya untuk orang-orang kaya, orang-orang miskin juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Jika tidak, selamanya di negeri ini mayoritas orang-orangnya tidak berkualitas sebab mayoritas warga negara ini adalah orang-orang miskin.

Semoga kita menyadari bahwa pendidikan merupakan hak semua orang, siapa pun mereka, wajib dan berhak mengikuti dan mendapatkan pendidikan yang layak bagi kehidupannya. Bahkan, pemerintah sangat berkepentingan dalam upaya penyelenggaraan proses pendidikan dan sarana prasarana pendidikan yang dibutuhkan. Dengan demikian, seharusnya semua orang mempunyai hak yang sama dalam mengikuti proses pendidikan, termasuk orang-orang miskin.

Orang miskin juga berhak sekolah!
Continue Reading | comments

Pentingkah Sertifikat ISO untuk Sekolah ?

Sudah ratusan sekolah di pulau Jawa yang memperoleh sertifikat ISO 9001. Di Jakarta saja, menurut data Kemendiknas tahun 2009, sudah lebih dari empat puluh sekolah dari berbagai jenjang yang sudah memiliki sertifikat ISO ini (www.isosekolah.com). Tahun ini diprediksikan sudah lebih dari seratus sekolah di Jakarta yang bersertifikat ISO. Kemendiknas menggalakkan sekolah untuk memiliki sertifikat ISO. Menurut informasi, hampir seluruh LPMP Provinsi di Indonesia sudah bersertifikat ISO.

Apa sih manfaat Sertifikat ISO bagi sekolah? Kenapa sekolah harus bersertifikat ISO? Drs. Bambang M, MM, Wakil Kepala Sekolah sebuah SMK negeri di Jakarta punya pengalaman menarik. Dulu ketika sekolahnya belum meraih sertifikat ISO, mereka mengalami kesulitan mencari bantuan keuangan untuk pengembangan sekolah. Jangankan donatur luar negeri, minta bantuan Kemendiknas aja susahnya minta ampun, katanya. Tapi sekarang setelah sekolahnya meraih Sertifikat ISO 9001, bantuan mengalir dengan derasnya. Ini terjadi karena publik, baik dalam maupun luar negeri, sudah percaya dengan Standar Manajemen Mutu dari sekolah ini.

Apa yang diungkapkan Bambang memang bukan isapan jempol. Sekarang banyak perusahaan yang mengajak kerja sama dengan sekolahnya. Bahkan sekolahnya kini sudah bekerja sama dengan perusahaan dari Cina untuk meningkatkan kompetensi siswanya. Perusahaan Cina itu memberikan bantuan berupa mesin-mesin untuk kegiatan praktek siswa. Kini, siswa kelas 3 yang baru saja mengikuti UN, sudah habis "dibooking" oleh banyak perusahaan swasta. Artinya, setelah mereka lulus nanti, mereka tidak akan menganggur karena lowongan kerja sudah menantikan mereka. Perusahaan-perusahaan tersebut sudak siap menampung mereka.

Lebih hebat lagi, para siswa sekolah ini sudah memiliki kemampuan merakit laptop. Mereka sering dapat order merakit laptop dari sebuah perusahaan komputer terbesar di Jakarta. Ribuan laptop sudah mereka rakit. Perusahaan ini percaya dengan kurikulum dari SMK ini karena telah bersertifikan ISO 9001. Bahkan beberapa waktu lalu, ketika Kemendiknas menggelontorkan program bantuan 2000 laptop/netbook untuk SMK, ternyata oleh perusahaan pemasok laptop mitra Kemendiknas itu, perakitannya diserahkan ke sekolah ini. Luar biasa.

Memang tidak mudah untuk memperoleh Sertifikat ISO. Tapi tidak sukar juga. Maksudnya memang sebuah keniscayaan. Cuma perlu keseriusan semua unsur di sekolah yang bersangkutan. Ketika ditanya berapa biaya yang dikeluarkan oleh sekolah untuk mendapatkan Sertfikat ISO, Bambang menyebut angka fantastis. Untuk biaya konsultan, sekolahnya mengeluarkan biaya seratus tujuhpuluh lima juta rupiah. Dana itu berasal dari bantuan Kemendiknas. Tapi dia terperangah ketika mengetahui bahwa www.isosekolah.com hanya mengenakan biaya tidak sampai seperempat dari angka itu untuk biaya pendampingan sampai tuntas. Apalagi jika pihak sekolah sudah memiliki sarana/prasarana, kurikulum dan SDM yang memadai, maka biayanya akan lebih kecil lagi.

Sekolah sekarang akan tertolong kalau menggunakan www.isosekolah.com sebagai konsultannya. Jadi tidak perlu keluar uang ratusan juta seperti sekolah kami dulu, pungkasnya.
Continue Reading | comments (1)

Guru Profesional

Kemampuan dalam arti yang umum dapat dibatasi sebagai “Kemampuan adalah perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan” (Danim, 1994 : 12). Sedangkan dalam konteks keguruan, kemampuan tersebut diterjemahkan sebagai “gambaran hakekat kualitatif dari perilaku guru yang nampak sangat berarti” (Wijaya, 1992 : 7). Dengan demikian, suatu kemampuan dalam suatu profesi yang berbeda menuntut kemampuan yang berbeda-beda pula. Sedangkan kemampuan dalam profesi keguruan akan dicerminkan pada kemampuan pengalaman dari kompetensi keguruan itu sendiri.

Apabila disimak makna yang tertuang dalam kaidah kemampuan tersebut, maka setiap profesi yang diemban seseorang harus disertai dengan kemampuan, dimana profesi itu sendiri dibatasi sebagai “Suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat” (Sardiman, 1986 : 131).

Dalam profesi keguruan, kriteria yang dipergunakan untuk menjembataninya sebagai sebuah profesi secara umum adalah sebagai berikut:
(a) Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual.
(b) Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
(c) Jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama.
(d) Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
(e) Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanent.
(f) Jabatan yang menentukan standarnya sendiri.
(g) Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
(h) Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat (Soetjipto, 1999 : 18).

Secara khusus, profesi keguruan bercirikan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Memiliki spesialisasi dengan latar belakang teori yang luas, maksudnya :
(a) Memiliki pengetahuan umum yang luas.
(b) Memiliki keahlian khusus yang mendalam.

2. Merupakan karier yang dibina secara organisatoris, maksudnya:
(a) Adanya keterikatan dalam suatu organisasi professional.
(b) Memiliki otonomi jabatan.
(c) Memiliki kode etik jabatan.
(d) Merupakan karya bakti seumur hidup.

3. Diakui masyarakat sebagai pekerjaan yang mempunyai status professional, maksudnya :
(a) Memperoleh dukungan masyarakat.
(b) Mendapat pengesahan dan perlindungan hukum.
(c) Memiliki persyaratan kerja yang sehat.
(d) Memiliki jaminan hidup yang layak (Sardiman, 1986 : 131 – 132).

Gambaran (citra) guru yang ideal mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dalam hal ini J. Sudarminta sebagai seorang filsuf dan pengamat pendidikan di Indonesia memberikan rambu-rambu tentang citra guru sebagai berikut:
1. Guru yang sadar dan tanggap akan perubahan zaman, pola tindak keguruannya tidak rutin (tidak dibenarkan jika guru menerapkan pola kerja yang baku tanpa memperhatikan individualistis peserta didik), guru tersebut maju dalam penggunaan dasar keilmuan dan perangkat instrumentalnya (misalnya sistem berpikir, membaca keilmuan, kecakapan problem-solving, seminar dan sejenisnya) yang diperlukannya untuk belajar lebih lanjut (berkesinambungan).

2. Guru yang berkualifikasi profesional, yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang diajarkannya, cakap dalam mengajarkannya secara efektif serta efesien dan guru tersebut berkepribadian yang mantap.

3. Guru hendaknya berwawasan dan berkemampuan menggalang partisipasi masyarakat di sekitarnya, tanpa menjadi otoriter dan dogmatik dalam pendekatan keguruannya.

4. Guru hendaknya bermoral yang tinggi dan beriman yang mendalam, seluruh tingkah lakunya (baik yang berhubungan dengan tugas keguruannya maupun sosialitasnya sehari-hari) digerakkan oleh nilai-nilai luhur dan taqwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara nyata guru tersebut bertindak disiplin, jujur, adil, setia dan menghayati iman yang hidup (Samana, 1994 : 21).

Idealnya profesi keguruan bukan hanya sekedar untuk mengisi lowongan pekerjaan, tidak juga semata-mata untuk menentukan prestise, tetapi profesi keguruan harus dapat ditempatkan sebagai sebuah profesi kemanusiaan yang dilandasi oleh panggilan hati nurani dengan dasar-dasar kemampuan yang seharusnya dimiliki untuk melaksanakannya. Profesi keguruan merupakan sebuah profesi yang strategis untuk membawa angin kemajuan pada semua aspek nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, guru tidak hanya sekedar berfungsi menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi lebih-lebih ia adalah pendidik yang bertugas mentrasfer dan mengembangkan nilai-nilai kemasyarakatan, sehingga dengan demikian tugas-tugas keguruan menuntut kemampuan yang majemuk dalam proses pendidikan, sehingga kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi dan dinamika seni yang telah dicapai sekarang ini belum mampu menggantikan kehadiran seorang guru dalam proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh (Sudjana, 1989 : 19), berikut ini.

Kehadiran guru dalam proses pembelajaran masih memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pembelajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder atau komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pembelajaran tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.

Mengingat peran pentingnya kehadiran seorang guru pada proses pendidikan itu, maka kemampuan-kemampuan yang seharusnya dimiliki sebagai pondasi profesinya adalah tonggak awal bagi keberhasilannya dalam menjalankan tugasnya.

Kemampuan mengajar guru, sebenarnya merupakan pencerminan penguasaan guru atas kompetensinya, sedangkan gugus kompetensi dasar keguruan itu adalah: (1) Kemampuan merencanakan pengajaran; (2) Kemampuan melaksanakan pengajaran; (3) Kemampuan mengevaluasi pengajaran.” (Imron, 1995 : 168).

Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutelak dimiliki guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik. Kompetensi merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pendidikan dan pembelajaran di jalur sekolah. Kompetensi sebagai konsep dapat diartikan secara etimologis dan terminologis. Dalam pengertian etimologis kompetensi dapat dikemukakan bahwa “Kompetensi tersebut berasal dari bahasa Inggris, yakni competency yang berarti kecakapan dan kemampuan. Oleh karena itu dapat pula dikatakan bahwa kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu” (Djamarah, 1994 : 33). Sedangkan secara definitif, kompetensi dapat dijelaskan sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang ahli bahwa “Kompetensi adalah suatu tugas yang memadai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang” (Roestiyah, 1986 : 4). Apabila pengertian ini dihubungkan dengan proses pendidikan, maka guru sebagai pemegang jabatan pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu, seorang guru perlu menguasai bahan pelajaran dan menguasai cara-cara mengajar serta memiliki kepribadian yang kokoh sebagai dasar kompetensi. Jika guru tidak memiliki kepribadian, tidak menguasai bahan pelajaran serta tidak pula mengetahui cara-cara mengajar, maka guru akan mengalami kegagalan dalam menunaikan tugasnya. Oleh karena itu, kompetensi mutelak dimiliki guru sebagai kemampuan, kecakapan atau keterampilan dalam mengelola kegiatan pendidikan. Dengan demikian, kompetensi guru berarti pemilikan pengetahuan keguruan dan pemilikan keterampilan serta kemampuan sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.


Daftar Bacaan
Danim, Sudarwan. 1994. Tranformasi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.
Imron, Ali. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Roestiyah, NK. 1986. Masalah-masalah Ilmu Keguruan. Jakarta: Bina Aksara.
Samana, A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
Sardiman, AM. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Kakarta: CV. Rajawali.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Wijaya, H. ES dan Tabrani Rusyan. 1992. Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Nine Karya Jaya.
Continue Reading | comments
 
Copyright © 2011. Ulumuddin's Site . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger